Makan Fast Food Rumahan ala Dapur Asix

Rendang, cumi asin, jengkol balado dan ayam pedas adalah beberapa masakan rumahan yang sudah familiar. Tapi di zaman now ini, aneka makanan yang Indonesia banget tersebut, berubah banyak bentuk representasi yang menarik dan menggugah selera, melalui inovasi cafe dan restoran kekinian. Dan itu banyak diminati, sehingga menjadi peluang bisnis yang manis.

Dapur Asix menjadi salah satu resto yang menyambut peluang ini. Minimnya waktu yang dimiliki saat makan siang, serta menyasar pada orang-orang yang ingin makanan rumahan tapi malas masak sendiri, menjadi latar belakang hadirnya resto ini.

Inovasi Dapur Asix  diluncurkan oleh sebuah keluarga artis yang terkenal dengan lagunya “Jodohku, maunya ku dirimu…“ Tau kan? Yak, Anang- Ashanti beserta keempat anaknya alias keluarga A6 (dibaca : A-six) ada dibalik resto masakan rumahan bertema fast food tersebut.

Lokasi Dapur Asix berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Saat masuk ke dalam restonya, terlihat desain cafe kekinian serta foto-foto keluarga A6 mengisi dindingnya.

Saya datang pukul 15.00, yang seharusnya sudah bukan waktu makan siang. Tapi yang saya temui adalah penuhnya pengunjung baik yang sedang makan ataupun yang sedang antri.

Untuk memesan menu, kita diharuskan mengantri sendiri langsung di kasir dan menyebutkan menu yang ingin dipesan. Makan di resto ini adalah self service. Jadi harus siapkan pendengaran untuk mengambil pesanan kita sesuai nomor yang tertera pada tagihan, yang nantinya akan dipanggil oleh pelayan.

Cicip Menu Dapur Asix

Saya memesan Paru Mercon, Ayam Ijo dan Es Jelly Thai Tea. Makanan di sini dibandrol harga Rp 35.000an, sedangkan untuk minuman, harganya mulai dari Rp 25.000 s.d Rp 32.000. Dapur Asix juga sedia menu untuk anak-anak sehingga tak perlu khawatir buat yang membawa serta anak-anaknya. Uniknya, nama-nama minumannya ada yang menggunakan nama keluarga A6. Seperti Es Anang Tea, dll.

Order saya tak lama dipanggil. Kemasan makanannya menggunakan semacam bowl plastik atau kertas, kemudian diberi sendok bebek plastik. Penyajiannya dilengkapi juga dengan tissue basah yang terbungkus plastik merah.

Dari 2 menu yang saya order, komposisinya sama pada penyajiannya, yaitu lauk (paru mercon/ayam ijo), telur mata sapi, nasi, lalapan serta sambal. Buat saya yang saat itu sedang lapar, jujur saya kurang puas karena nasinya terlalu sedikit. Sedangkan telur mata sapinya, terasa biasa saja.

Untuk lauknya, saya lebih suka dengan menu ayam ijo. Bumbunya terasa dan tidak terlalu pedas, cocok untuk lidah yang tidak terlalu suka pedas seperti saya. Tekstur ayam suwirnya cukup besar tapi ternyata empuk.

Untuk menu paru mercon, jangan ditanya pedas atau tidak ya, lidah saya sampai panas dibuatnya. Tekstur parunya sangat lembut dan mudah dikunyah. Sayangnya saya kurang merasakan rasa bumbu dari paru mercon ini, selain rasa pedas yang begitu kuat. Over all, bagi saya menu Dapur Asix cukup enak dan mungkin saya akan kembali lagi untuk mecoba varian menu lainnya.

Fyi, untuk yang mau ke Dapur Asix, lebih baik menghindari jam makan siang ya, karena sulitnya untuk memarkirkan kendaraan meski bisa dibantu oleh vallet parking.

-Ra-

Pernah coba resto MAM? Kalau yang ini fast food sehat loh

Ada komentar? Silakan...