Santap Poffertjes di Papof, Mengenang Kudapan Oma

Butuh udara segar dan menyejukan mata atau sekedar melepas penat dari padatnya aktivitas di ibu kota? Ke Puncak, Bogor aja… Di sana segalanya tersedia mulai dari penginapan, kuliner, wisata keluarga sampai dengan belanja. Selain memberi udara segar untuk refreshing, wilayah Puncak juga memanjakan mata dengan pemandangannya yang menakjubkan.

Di Puncak ini, ada tempat yang selalu ingin saya datangi. Sebuah tempat kuliner bernuansa klasik zaman Belanda. Papof, begitulah mereka menamakan restoran unik ini. Dengan bangunan beraksitektur kolonial serta jenis makanan yang disajikan, membuat tempat ini kental suasana Belandanya. Homey dan nyaman, layaknya di rumah oma saya.

Papof berlokasi di pinggir Jalan Raya Puncak,  Cisarua, Bogor sehingga mudah ditemui. Pun di papan namanya tertulis Restaurant, Bed and Breakfast. Jadi, kalau Kuliks butuh referensi tempat menginap di Puncak yang berasa di rumah oma boleh deh coba menginap di sini.

Saat saya memasuki area halaman resto ini, saya jatuh cinta dengan desainnya yang sederhana dan homey. Masuk ke ruangan inti restorannya pun membuat kita seperti tidak di restoran tapi seperti pulang ke rumah nenek. Rasanya ingin sambil menyapa: “Hallo oma, cucumu datang…” Hehehe.

Saya memilih duduk di ruangan utama tak jauh dari pintu masuk. Dengan sofa merah panjang yang terletak di sudut dekat jendela-jendela khas bangunan Belanda, pemandangan yang disajikan sungguh menenangkan.

Rileks Sore dengan Poffertjes Papof dan Coklat Hangat

Saat itu, menjelang sore, cuma saya dan suami yang makan di situ. Entah mungkin belum banyak orang yang tahu keberadaan resto ini, atau hanya ramai saat tertentu saja.

Tak lama pramusaji memberikan buku menu yang didominasi oleh menu Eropa alias Belanda mulai dari appetizer, main course dan dessert. Saya amati menunya fokus pada menu breakfast atau sarapan, karena kami sudah makan siang. Akhirnya saya putuskan untuk memesan 1 porsi poffertjes mini dengan segelas coklat hangat. Satu porsi poffertjes mini seharga Rp 55.000 terdiri dari 10 pcs, sedangkan untuk secangkir coklat hangat seharga Rp 35.000.

Kurang lebih 10-15 menit menanti, order kami datang ke meja. Sepiring poffertjes mini yang masih hangat disajikan dengan taburan gula bubuk dan potongan butter yang sudah menanti untuk dilelehkan. Saya taruh potongan butter di atas poffertjes dan benar saja butter pelan-pelan mulai melted menyatu dengan kuliner khas Belanda ini.

Rasa poffertjes di resto Papof sangat lembut dan perpaduannya cukup baik. Adonan poffertjes-nya yang tidak manis dan tidak hambar, menyatu dengan taburan gula bubuk dan lelehan butter yang ternyata salted butter. Jadi, asin manis gurih sangat terasa.

Poffertjes ini benar-benar mengingatkan saya akan oma yang dulu suka membuatkan penganan Belanda untuk kami, cucu-cucunya. Ada poffertjes dan juga panekuk. Memutar lagi memori masa-masa kecil yang indah dan penuh kenangan.

Poffertjes Papof ini juga pas banget jadi teman minum coklat hangat apalagi seperti sore hari itu di Puncak yang dingin. Saya coba meneguk coklat hangatnya. Hmm… rasanya lembut dan bikin rileks, serta menghilangkan lelah setelah perjalanan panjang.

Menu lainnya seperti pannekoek, spaghetti, aneka soup juga layak dicoba, sambil menikmati suasana ala rumah Belanda dengan pemandangan indah.

-Ra-

Cek juga yuk resto homey di Jakarta: Walking Drums

Review Resto Papof
  • Suasana
  • Kebersihan/Kenyamanan
  • Makanan/Minuman
  • Harga

Ada komentar? Silakan...