Menikmati Tengkleng Rica ala Pak Manto yang Maknyus

Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai Solo, punya segudang kuliner yang terkenal. Sebut saja selat Solo, nasi liwet, timlo, tengkleng, serabi Solo dan masih banyak kuliner lainnya.

Pada liburan lebaran yang lalu, saya dan suami melancong ke kota yang pernah dipimpin oleh Bapak Jokowi ini, khusus untuk menikmati aneka kulinernya. Salah satu tempat yang membuat kami penasaran  adalah kedai Sate Kambing Pak Manto yang terletak di jalan Honggowongso No. 36. Kedai ini terkenal akan menu tengkleng rica-nya.

Bertempat di bangunan ruko, tempat makannya terbagi menjadi, di luar dan di dalam. Dapur tempat memasak berada terpisah dari tempat makan. Dapurnya berada di bangunan sebelah.

Tempat makan ini ramai pengunjung saat kami tiba. Sambil menunggu meja kosong, saya berinisiatif memesan makanan di kasir, sehingga tak perlu menunggu lama jika sudah dapat meja.  Kurang lebih ada 10 meja panjang dengan bangku kayu panjang di luar. Siang hari di teras kedai ini kurang nyaman, karena panas dan gerah. Namun, demi mencicipi tengkleng rica, tidak apalah.

Menu Tengkleng Rica yang Kesohor

Saya memesan 1 tengkleng rica, 2 tusuk sate buntel, 1 nasi putih dan 1 es jeruk.

Jika tengkleng pada umumnya berkuah encer berwarna kuning, maka tengkleng rica ala Pak Manto ini berkuah coklat dan kental mirip kuah tongseng. Seporsi menu ini cukup banyak, sehingga dapat dimakan berdua.

Tengkleng rica yang disajikan bersama potongan tomat dan kol ini rasanya maknyus. Daging yang menempel pada tulang mudah terlepas saat digigit. Kuahnya terasa manis, gurih dan pedas yang berasal dari lada/ merica, bukan pedas cabai. Sehingga bagi saya yang tidak terlalu suka pedas, rasa kuahnya pas. Jangan lupa mencocol kerupuk pada kuahnya, enak deh. Atau siram kuah masakan ini ke atas nasi panas, juga bikin tambah nikmat.

Makanan lain yang saya pesan adalah sate buntel. Buntel dalam bahasa Jawa artinya bungkus. Jadi sate buntel merupakan daging kambing cincang yang dibungkus dengan lemak kambing kemudian dibakar di atas bara api.

Penampilan sate buntel tidak seperti sate pada umumnya, berupa potongan daging kecil-kecil yang ditusuk lidi, tapi mirip dengan sate lilit Bali. Sate buntel di warung pak Manto ini disajikan dengan bumbu kecap dengan irisan kol, bawang merah, tomat dan timun, tanpa lidi/tusukan.

Saat dicicipi, sate buntelnya terasa kering, kurang juicy terutama daging cincangnya. Bahkan ada daging cincang yang berwarna kemerahan, tanda kurang matang. Bumbu kecapnya juga kurang banyak.

Untuk seluruh pesanan saya ditambah dengan 4 buah kerupuk kaleng, saya harus membayar Rp. 111.000. Saya tidak sempat menanyakan berapa harga per porsinya, saking ramainya tempat makan ini. Bahkan khusus libur Lebaran, Pak Manto sampai memotong kambing di dekat dapurnya, demi memenuhi pesanan yang sangat banyak.

-SQ-

Baca juga kuliner di Jawa Tengah lainnya, yaitu Bakmi Jawa dan Sauto.

Ada komentar? Silakan...