Buah Pala: Rempah Nusantara yang Jadi Rebutan Penjajah
Sekitar 5 tahun ke belakang, tante saya selalu rutin membawa manisan buah pala jika silaturahmi ke rumah ibu. Tante membuat sendiri manisan itu dengan 2 macam variasi yang biasa dijual di toko oleh-oleh, yaitu manisan pala basah dengan air gula, dan manisan pala kering dengan gula pasir. Rasanya yang manis serta hangat di tenggorokan dan perut, selalu bikin kangen untuk menyantapnya.
Rumah tante memang dekat dengan sentra produksi olahan buah pala di Kampung Buntar, Bogor Selatan. Banyak pedagang oleh-oleh yang mengambil produk olahan pala dari kampung ini. Kami juga bisa request ke tante minta dibuatkan (dengan dibayar) untuk acara tertentu, misalnya saat menjelang hari raya Idul Fitri.


Sayangnya, lokasi perkebunan pala di Kampung Buntar, Bogor, Jawa Barat itu kini makin menurun produksinya. Lahan perkebunan makin sedikit karena terkikis akibat pembangunan lahan menjadi area perumahan (tvrijakartanews.com). Hal itu yang menjadi salah satu penyebab harga buah pala di Bogor makin mahal, sehingga tante saya tidak lagi rutin membuat manisan buah pala seperti biasanya.
Nah, dihubungkan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025 ini, saya mengajak Kuliks untuk mengingat lagi tentang buah pala, rempah khas Nusantara sebagai kekayaan alam Indonesia, yang telah menarik perhatian dunia sejak berabad-abad silam.

Siapa sangka buah bulat lonjong beraroma khas ini ternyata begitu berharga. Saking berharganya pala, buah tropis bernama Latin: Myristica fragrans ini jadi alasan utama bangsa Eropa datang menjajah negeri ini.
Pala dalam Sejarah Penjajahan Indonesia
Tak banyak yang tahu bahwa pala adalah salah satu alasan utama penjajahan Belanda di Indonesia. Selain pala, rempah-rempah yang diincar penjajah Eropa adalah cengkih dan lada. Pada abad ke-16 kala itu, buah pala menjadi salah satu komoditas paling mahal di Eropa.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa di pasar London, harga 1 pon (sekitar 0,45 kg) pala bisa mencapai 2–3 pound sterling, yang setara dengan beberapa bulan gaji pekerja terampil saat itu. Bahkan, sejarawan Giles Milton dalam bukunya Nathaniel’s Nutmeg menggambarkan bahwa nilai pala di Eropa bisa setara atau lebih mahal dari emas dengan berat yang sama, karena diyakini mampu mencegah dan mengobati berbagai penyakit, termasuk wabah pes (black death) yang saat itu menghantui Eropa.
Giles Milton menyebutkan bahwa Kepulauan Banda adalah satu-satunya tempat di dunia yang menanam pala secara alami saat itu.
Persaingan memperebutkan pulau Banda menyebabkan konflik antar bangsa Eropa: Portugis, Inggris, dan Belanda yang saling berebut kekuasaan. Puncaknya terjadi pada tahun 1621, saat VOC (Belanda) di bawah Jan Pieterszoon Coen, membantai ribuan warga Banda dan memaksa sisanya bekerja sebagai budak di perkebunan pala. Ini menjadi salah satu momen kelam dalam sejarah kolonialisme di Indonesia.
Perkebunan Pala di Indonesia Saat Ini
Meski era kolonial telah berakhir, Indonesia tetap menjadi salah satu produsen pala terbesar dunia. Menurut data FAO dan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menyumbang lebih dari 50% produksi buah pala dunia, disusul India dan Grenada.
Wilayah sentra produksi utama di Nusantara meliputi: Maluku Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Utara (Minahasa dan Sitaro), Aceh Selatan, dan Aceh Barat Daya.
Fakta tentang Buah Pala
1.Sejak abad ke-13, para pedagang Arab sebenarnya sudah mengetahui dengan tepat bahwa sumber utama rempah pala berada di kawasan timur kepulauan Nusantara. Namun, mereka sengaja menyembunyikan informasi itu dari para pedagang Eropa. Baru ketika bangsa Portugis tiba di Asia Tenggara, rahasia mengenai asal-usul pala di Banda akhirnya terungkap.

2. Ada sekitar 100 spesies buah pala yang tersebar di daerah tropis, terutama Asia Tenggara, Pasifik, dan Australia, namun hanya 1 spesies yang dibudidayakan sebagai rempah yaitu Myristica fragrans, tanaman asli Kepulauan Banda, Maluku.
3. Rempah ini menghasilkan dua komoditas bernilai tinggi:
- Biji pala (nutmeg), yang dikeringkan dan diolah menjadi bumbu dapur
- Fuli (mace), yaitu selaput merah yang menyelimuti biji dan juga digunakan sebagai bumbu serta bahan kosmetik dan farmasi.
4. Penggunaan Pala di Luar Negeri
- Eropa: Digunakan dalam hidangan penutup seperti custard, egg nog, kue, dan minuman hangat.
- India: Dipakai dalam campuran bumbu garam masala dan berbagai kari.
- Timur Tengah: Jadi campuran kopi rempah dan roti tradisional.
- Karibia: Di negara seperti Grenada, pala menjadi bahan utama saus pedas dan minuman beralkohol seperti rum.
- Jepang: Pala digunakan sebagai bumbu dalam beberapa varian kari instan.
5. Nilai Gizi dan Manfaat Pala
Mengutip dari situs Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), buah pala mengandung minyak atsiri, miristisin, elemisin, dan safrol. Kandungan ini menjadikannya berkhasiat sebagai:
- Antioksidan alami
- Penambah nafsu makan
- Obat tradisional untuk mengatasi gangguan pencernaan, flu, dan insomnia
Selain itu, daging buah pala disebut mengandung mineral seperti kalsium, fosfor, dan besi, juga vitamin A dan vitamin C yang bermanfaat untuk menjaga imunitas tubuh.
Ragam Kuliner Nusantara yang Menggunakan Buah Pala

Pala tak hanya berperan penting dalam sejarah dan ekonomi, tapi juga telah menjadi bagian dari identitas kuliner Indonesia. Berikut beberapa hidangan khas yang menggunakan buah pala.
Hidangan Gurih
- Semur Betawi: Aroma khas pala menjadikan semur begitu dalam dan autentik.
- Rendang Minangkabau: Sebagian versi rendang menggunakan pala untuk memperkaya rasa.
- Soto Betawi dan sop buntut: Tambahan bubuk pala membuat kuah lebih harum.
Makanan dan Minuman Manis
- Manisan pala khas Ambon dan Banda: Dibuat dari daging buah pala yang difermentasi.
- Sirup pala: Minuman segar khas Maluku dan Aceh Selatan yang mulai populer sebagai oleh-oleh wisata.
- Kue spekuk dan nastar: Menggunakan bubuk pala untuk rasa hangat dan aroma eksotis.
- Jeli pala dan selai pala juga menjadi produk yang mulai banyak dijumpai di toko oleh-oleh.
Produk Turunan Lainnya
Pala juga banyak diolah menjadi: campuran bahan kosmetik, obat herbal, minyak atsiri pala (nutmeg oil), balsam dan minyak urut tradisional, serta sabun herbal dan aromaterapi alami.
Penutup
Di usia kemerdekaan yang ke-80 ini, saatnya kita merdeka bukan hanya secara politis, tetapi juga dalam mengelola kekayaan rempah secara mandiri dan berkelanjutan.
Langkah nyata yang dapat kita lakukan, di antaranya: mendukung produk rempah lokal, terutama dari petani kecil dan UMKM, mengangkat resep kuliner berbasis rempah di media sosial atau mengembangkan inovasi produk olahan pala untuk pasar global.
Dengan upaya bersama, buah pala bukan hanya dikenang sebagai alasan penjajahan, tapi juga sebagai simbol kekayaan dan kedaulatan rasa Nusantara.
*Pict : Canva
Di daerah saya di Sukabumi termasuk salah satu sentra pembuatan makanan dan minuman dari pala, mulai dari sirup, manisan basah sampai manisan dingin. Paling suka dengan manisan basahnya sih. Rasanya segar, perpaduan manis dan asamnya pas bikin melek. Di Cianjur juga sama ada, bahkan lebih terkenal.
Ternyata di Bogor juga ada, ya. Jadi pengen nyobain yang di Bogor juga nih.
Jadi ingat Ibuku yang sukaaa makan manisan pala…
Terima kasih sudah membagikan sejarah pala sebagai rempah Nusantara. Betapa pala memiliki nilai historis dan ekonomi yang tinggi, menjadi bumbu kuliner bangsawan dan komoditas dagang penting sejak berabad silam.
Keunggulan pala sebagai rempah nusantara terletak pada kekayaan aroma dan rasa pedas hangat yang khas yang bisa menambah kelezatan masakan, manfaat kesehatan yang beragam, yang perlu kita banggakan
Untung dari kecil udah dikenalin manisan pala hijau dan putih ini, jadi suka walau banyak yang bilang rasanya “sengir” ya. dan aku baru sadar kalau kroket yang enak HARUS banyak palanya!
Saya suka sekali Manisan buah pala Kak. Dulu saya masih berpikir gimana sih bentuknya Manisan buah pala ini kok bisa lembut tapi buah palanya ada cangkang dan keras.
Ternyata biji pala ada di tengah buahnya. Hehehe.
Memang bumbu masakan Indonesia tanpa pala pasti kurang. Mau nge-sup aja saya Pasti Cari buah pala.
Aku habis baca buku Mirah dari Banda, novel yang berlatar belakang daerah Banda Maluku pada masa kolonial. Dari sana aku jadi tahu bahwa Indo pernah dijajah gara-gara pala ini. Di tempatku sendiri di lereng gunung ungaran, banyak banget tanaman pala, dulu kita suka ngambil yang jatuh terus dimakan sama garam dan gula, meski mentah gitu rasanya lebih ke getir sih. Menarik banget membahas pala dalam rangka hari kemerdekaan, seolah jadi pengingat kita semua bahwa negeri ini pernah di jajah gara-gara pala 🙂
Pala juga dipakai di beberapa hidangan yang pertama aku kenal di Solo yang mendapatkan pengaruh Belanda, seperti setup makaroni dan bitterballen. Rasanya memang khas dan nggak tergantikan, meskipun mungkin kalau sedang terlalu tajam penggunaannya juga nggak semua orang cocok.
Setuju banget, buah pala bukan hanya sekadar kenangan pahit dan alasan penjajah menjajah negeri tercinta Indonesia.
Bapak ku pun pernah nih berbisnis Pala. Semua bagian dari pala memang bisa di kreasikan dan bermanfaat. Terpenting harganya juga bagus.
Yuk lebih semangat lagi support UMKM yang masih menjual Pala dan petani pala pun harus di pertahankan keberadaannya.
Di Sukabumi ada juha niih produk dari buah pala. Ada manisan dan sirup pala, jadi oleh-oleh khas Sukabumi juga. Pala memang enak dibuat apa saja. Soalnya dagingnya enak dan wanginya haruum sekali. Saya juga suka pakai bumbu bubuk pala buat perkedel kentang. Buat kue juga enak lho ditaburi bubuk pala ini.
Ingatan waktu kecil, kalo berlebaran ke rumah kerabat, mostly disuguhin manisan buah Pala.
Sekarang, sudah karang ditemukan.
Mungkin karena buah pala memang sudah semakin dikit perkebunanannya. Atau, orang-orang jaman sekarang ga punya lagi resep manisan pala, atau peminat manisan pala sudah berkurang.
Who knows…
Dari kecil saya belum pernah makan Pala. Ternyata banyak sekali manfaat dari buah pala. Bisa dijadikan makanan, minuman dan obat herbal.
Agree! Mulai dukung UMKM yang mengolah rempah nusantara. Dari semua olahan pala, aku baru nyoba manisan saja. Karena memang mudah didapat didaerahku, banyak yang jual.
Baca cerita pala ini tuh bikin merinding sekaligus bangga, ya! Bayangin aja, buah pala—sekadar rempah aromatik dari Banda—raup perhatian bangsa Eropa sampai rela perang dan monopoli. Gila, harga pala di Eropa dulu semahal emas, sampai dikira bisa sembuhin penyakit parah. Gimana nggak bikin kita deg-degan, rempah lokal aja bisa bikin sejarah bangsa ini berubah.
aku belum pernah nyobain buah pala. Jadi inget temenku nyaranin makan buah pala karena aku ada gangguan tidur. Sepertinya bermanfaat buat bantu relaksasi menjelang tidur.
Buah pala itu punya aroma yg khas. Meski secara pribadi Aku lebih sering konsumsi olahan buah pala setelah jd manisan bukan diolah sebagai rempah
Tp klo di inget2 iya jg terakhir belakangan ini budidaya / olahan pala udh agak jarang dijumpai
Jujur, sejak kecil sampai sekarang saya belum pernah mencicipi buah pahala baik buahnya langsung maupun makanan olahannya.
Saya setuju, kita bangsa yang besar. Sudah seharusnya menjaga kekayaan alam kita. Apalagi Indonesia sejak dulu kala sudah dikenal dengan kekayaan rempah-rempahnya.
Manisan buah pala, salah satu oleh-oleh yang suka dibeli kalau berkunjung ke Bogor.Buah pala punya cerita panjang sekali untuk bangsa dan negeri ini terkait penjajahan. Pala memang sedahsyat itu tak hanya bicara buah dan kelezatan kuliner
Saya baru tahu kalau pala dibuat untuk spekuk dan nastar juga. Kalau untuk sirup dan manisan sudah pernah tahu sih
Keren ya kuliner nusantara ini, ada aja cara untuk menikmatinya
Saya suka banget manisan buah pala. Gak nyangka ternyata Indonesia juga penghasil buah pala terbesar di Asia ya. Baik buah dan bijinya juga sama2 bermanfaat
Buat sehari-hari, orang rumah jarang banget pakai pala. Kalau masak tertentu, baru deh beli beberapa biji. Btw, penasaran banget sama manisan pala. Bisa ternyata buahnya diolah kaya gitu
saya suka manisan pala, Mbak. Baik yang kering maupun yang basah. Benar itu bikin tenggorokan hangat. Nah di rumah juga kalau masak sayur sup kacang merah pakai biji pala. Itu eank dan sedap sekali.
Buah pala ternyata punya sejarah panjang banget ya! Jadi makin bangga sama rempah-rempah Nusantara.
Aku kayaknya nggak pernah lihat buah pala yang masih segar dah. Biasanya yang dipake masak kayaknya yang sudah kering gitu kan. Malah dibuat manisan. Kok kayaknya seger gitu
Baca judulnya aku langsung kebayang dengan Banda Neira, tempat yang ingin aku jelajahi sebelum maut menjemput. Semoga waktu mengizinkan.
Bersoal tentang kekayaaan negeri. Sungguh bangga lahir, hidup di negeri yang begitu lengkap dengan segala yang dibutuhkan kehidupan. Walau terasa sang pemangku kepentingan sungguh ehem. Setelah membaca sampai habis, benar saja ada penjelasan tentang Pala di Banda. Pulau yang berlimpah dengan palanya. Tempat dimulai kekayaan Negeri digerus oleh negara asing.
Lalu aku ngeces membayangkan manisan pala. Duh segernya. Tiba-tiba pengen ke Bogor. Eh.
Buah pala ini aku antara suka dan ga. Kalo dijadikan manisan, kurang doyan, tp yg basah masih mau makan. Kalo yg kering, confirm ga kusentuh .
Tapi sebagai bumbu masakan, aku suka. Krn memang memberikan aroma khas yg enaaak banget. Apalagi utk campuran minuman dan kue nastar .
Ga nyangka buah ini penyebab penjajah dulu maksa mau menguasai Indonesia yaaa
Daku senang kalau ada yang kasih oleh-oleh manisan buah pala seringkali dikasih itu, atau pasca daku yang staycation di puncak, nyarinya itu hehe. Karena ada rasa segar dan asam, apalagi kalau misalnya dimasukkan lebih dulu ke kulkas hihi.
dulu waktu masih kuliah kusangat menggemari manisan pala hehehe… Jadi keinget manisan pala yang suka dibikin nenekku dulu, rasanya memang beda dan bikin nagih. Eamng banyak rempah yang jadi rebutan, salah satunya pala dan rempah kecil ini punya peran sebesar itu dalam sejarah kita. Jadi makin bangga sama kekayaan alam Indonesia.
Yampuun.. ada Pak Jan Pieterszoon Coen.
Aku salut banget sama tanah airku yang kayaaa raya melimpah dengan sumber alamnya.
Pala yang aku pikir “cuma” gitu aja, ternyata manfaatnya sangat besar untuk menambah rasa kuliner di seluruh dunia.
Unik yaa..
Buahnya padahal yaaa kicik-kicik gituu.. tapi jadi rebutan berbagai bangsa.
Allahu Akbar dengan segala keistimewaan ciptaan Allaah.
Suka banget deh manisan pala ini biasanya aku beli yang kering dan bergulat.. lebih awet untuk dibawa pulang.. pala salah satu penyebab kita dijajah ratusan tahun ya..
Masih ingat dulu waktu kecil, mama suka beli manisan pala
Katanya tuh awalnya kasihan sama penjualnya
Eh ternyata manisannya enak dan keterusan beli
Sayangnya aku pas besar udah ga makan lagi
Padahal kangen rasanya
Ah iya, buah pala adalah salah satu rempah andalan bangsa Indonesia. Buah pala jadi salah satu alasan penjajahan barat di Indonesia ya
Aaahhhh jadi inget Almarhum Papa kalau pulang dari Cianjur dan sekitarnya pasti bawa manisan pala buat oleh oleh, selain mochi. Seger seger rasanya manis asam pedas
Menarik sekali membaca kisah pala yang dulu jadi rebutan penjajah hingga kini tetap jadi kebanggaan Nusantara. Dari sejarah kelam di Banda sampai jadi manisan dan sirup yang hangat di lidah, pala memang pantas dijaga sebagai warisan sekaligus peluang ekonomi bangsa.
Ini salah satu buah yang dulu aku suka mainin pas SD, soalnya emang ada pohonnya di depan kelas.. dan berbuah. Dulu seneng banget liat bentukannya yang ada jaring2 merah gitu hehehe.
Sekarang aku masih suka beli manisannya mbak.. kebetulan mertuaku suka. Ini salah satu buah berpengaruh ya dalam sejarah Indonesia.