Daging Kambing Penyebab Darah Tinggi? Mitos apa Fakta?

Hari Raya Idul Adha sudah di depan mata. Hewan-hewan kurban seperti kambing, domba dan sapi, mulai tampak banyak terlihat di mana-mana. Selepas hari raya, sajian makanan di rumah pun umumnya tak jauh dari kuliner daging kambing dan sapi. Seperti sate, tongseng, gulai dan sop, yang biasanya dimasak dari sebagian daging hasil pemotongan hewan kurban tersebut.

Di tengah maraknya aneka hidangan Idul Adha, daging kambing hampir selalu disalahkan sebagai “biang kerok” penyebab tensi (tekanan darah) tinggi, sehingga lebih sering dihindari terutama oleh penderita hipertensi. Benarkah faktanya demikian? Jangan makan dulu ya, sebelum menyimak penjelasan di bawah ini….

 

Fakta Daging Kambing

Menurut berbagai penelitian, semua daging merah memang sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu banyak mengingat kandungan lemak jenuhnya yang cukup tinggi. Lemak jenuh adalah lemak jahat yang diketahui dapat meningkatkan kolesterol, tekanan darah dan pemicu penyakit jantung. Namun daging kambing faktanya bukan faktor utama meningkatnya tensi darah. Sebagai gambaran, kandungan lemak jenuh daging kambing adalah 0,71 gram per 100 gram berat daging, sementara kandungan lemak jenuh daging sapi berkisar 6 gram dan pada ayam, lemak jenuhnya hampir 2,5 gram (sumber: hellosehat.com).

Daging kambing malah diperkaya oleh lemak tak jenuh sekitar 1 gram per porsinya. Lemak tak jenuh ini adalah lemak baik yang membantu menyeimbangkan kadar kolesterol darah. Ini berati daging yang beraroma khas ini malah lebih sehat dan aman sekalipun dikonsumsi penderita hipertensi.

 

Namun demikian, ada hal penting yang perlu diwaspadai, yaitu teknik memasak kuliner olahan daging ini.  Orang Indonesia khususnya, lebih sering menggoreng, memanggang atau membakar daging kambing untuk memasaknya. Teknik memasak tersebut membutuhkan banyak minyak goreng, mentega atau margarin yang meningkatkan lemak masakan dengan diserap oleh daging aslinya. Suhu panas saat menggoreng atau memanggang akan menguapkan kandungan air daging yang digantikan oleh lemak yang berasal dari minyak tersebut. Tingginya lemak melalui cara pemasakan ini yang bahaya karena lama kelamaan akan menumpuk di pembuluh darah sehingga meningkatkan tekanan darah.

Di samping itu, bumbu masakan seperti garam, kecap dan penyedap yang mengandung sodium tinggi juga turut memicu tekanan darah tinggi jika dikonsumsi berlebihan.



Kesimpulannya, penggemar kuliner kambing boleh tersenyum yaa  😋 dan siapapun tak perlu parno hipertensi jika makan masakan olahan kambing… Selama porsinya tidak berlebihan, dan cermat dalam memilih bahan serta proses memasaknya, konsumsi daging kambing tidak akan bikin darting kok.

*Sumber gambar: pixabay.com

-Cemil-

4 tanggapan untuk “Daging Kambing Penyebab Darah Tinggi? Mitos apa Fakta?

  • Agustus 29, 2017 pada 8:18 pm
    Permalink

    Baru tau. Berarti mitos aja ya, daging kambing bikin hipertensi.. makasih infonya

    Balas
    • Agustus 29, 2017 pada 8:36 pm
      Permalink

      Iya mbak Rani, hanya mitos. Ada banyak makanan lain yang benar2 signifikan menyebabkan hipertensi. Btw terima kasih sudah berkunjung ya

      Balas
  • Agustus 30, 2017 pada 11:09 am
    Permalink

    Sate, soto, gulai, sop ,

    Balas
    • Agustus 30, 2017 pada 11:17 am
      Permalink

      Hehehe, enak tuh. Pesta kuliner kambing yah…

      Balas

Ada komentar? Silakan...