Kuliner Wonosobo dan Dieng yang Unik
Di balik kabut dinginnya yang menusuk tulang, Wonosobo menyimpan deretan kuliner legendaris yang siap menghangatkan tubuh seketika. Bagi para pelancong, berburu kuliner lokal di sini bukan sekadar mengisi perut, melainkan ritual wajib untuk melengkapi petualangan.

Di perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, terdapat Dieng Plateu, sebuah dataran tinggi yang terkenal dengan julukan negeri di atas awan. Dieng terkenal dengan udaranya yang dingin sejuk (di musim panas suhunya paling tinggi 23°C dan terendah 15°C, lebih rendah lagi di musim hujan). Di sana juga selalu ada hamparan kabut yang pekat, di samping panorama alamnya yang magis.
Kawasan Dieng kaya akan pemandangan yang unik dengan adanya gunung/bukit, kawah aktif, mata air panas, dan telaga vulkanik. Selain keindahan alamnya, Dieng juga menjadi sejarah budaya karena di sana terdapat kompleks candi Hindu tertua di Jawa.

Saat liburan ke Dieng beberapa waktu yang lalu, selain menikmati keelokan alamnya, saya juga mencoba aneka kuliner khas Wonosobo dan Dieng yang dijajakan. Cekidot.
Mencoba Kuliner Khas di Dataran Tinggi Dieng
1. Mie Ongklok Pak Muhadi
Di Wonosobo dan Dieng akan banyak ditemui penjual makanan berbahan dasar mie. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Mie Ongklok Pak Muhadi yang terletak di jalan T. Jogonegoro No. 1, Wonosobo.

Pada dasarnya ongklok merupakan alat dari bambu yang digunakan untuk merebus mie tersebut. Yang membedakan mie ongklok dengan mie ayam biasa adalah pada kuahnya. Mie ongklok diberi kuah kental yang terbuat dari kanji. Selain itu, mie ongklok biasa disajikan dengan sate sapi berbumbu kacang. Satu mangkok mie ongklok terdiri atas mie, kol, daun kucai yang disiram dengan kuah loh (istilah kuah mie ongklok) dan bumbu kacang, tak lupa ditaburi dengan bawang goreng.

Pertama kali menatap penampilan mie ongklok, saya agak ragu untuk menyantapnya. Saya pikir pasti rasanya pasti aneh. Eh.. tapi ternyata bener kata pepatah: never judge a book by its cover. Saya aduk-aduk mie sehingga mie dan kuahnya tercampur. Pada suapan pertama aja ternyata rasanya enak. Bayangan kuah kanji akan aneh, tidak terasa sama sekali. Rasa kuahnya manis dan sedikit gurih karena ada campuran ebi pada bumbunya. Mienya lumayan tipis dan lembut. Sate sapinya juga empuk dan enak. Perpaduan yang pas. Mie ongklok dan sate sapi ini harganya sekitar Rp 35.000.
2. Manisan Carica Garden
Carica adalah buah endemik di Dieng. Pohon dan buahnya menyerupai buah pepaya, namun ukuran buahnya lebih kecil dan pohonnya bercabang banyak. Jika dikupas daging carica berwarna kuning dengan biji menyerupai biji buah markisa. Buah carica ini biasa diolah menjadi manisan yang direndam dalam sirup dan keripik.
Carica menjadi oleh-oleh yang wajib jika berkunjung ke Dieng. Biasanya manisan carica dikemas dalam botol kaca atau cup plastik kecil. Satu dus manisan carica umumnya dibanderol di kisaran harga Rp. 40.000 hingga Rp 45.000 yang berisi 12 cup kecil. Sirup yang merendam carica ini rasanya manis sekali menurut saya. Tapi rasa buahnya enak.
Bagi yang tidak terlalu suka manis, manisan buah carica ini dapat dicampurkan pada es buah.
3. Aneka Olahan Kentang
Kentang merupakan sayur yang paling banyak ditanam oleh petani Dieng. Di setiap obyek wisata di Dieng akan banyak kita jumpai penjual kentang goreng. Kentang goreng yang ditawarkan dengan harga Rp5.000 – Rp10.000 ini diberi tambahan bumbu bubuk tabur.
Saya paling suka kentang goreng yang dijajakan di komplek Candi Arjuna, karena kentangnya matang sempurna hingga ke bagian tengah. Selain itu, sebelum menyajikan kentangnya, penjual menyuruh saya mencicipi terlebih dahulu untuk mengetes panasnya. Jika dirasa kurang panas, maka penjual akan menggoreng kentangnya kembali. Ini dilakukan karena suhu Dieng yang sangat dingin, sehingga gorengan menjadi cepat dingin meski baru diangkat dari penggorengan.
Olahan kentang kedua adalah kentang kecil yang dimasak menyerupai semur. Semur kentang ini hanya dijajakan di obyek wisata Bukit Sikunir. Rasanya enak, perpaduan manis dan pedas. Semur kentang khas Wonosobo ini dijual dengan harga berkisar Rp10.000.

4. Tempe Kemul dan Sego Megono
Satu lagi kombinasi sarapan lokal yang tidak boleh dilewatkan di dataran tinggi ini, yaitu Sego Megono dan Tempe Kemul. Sego Megono adalah nasi putih hangat yang dicampur dengan cacahan sayur kol, parutan kelapa berbumbu, dan terkadang diberi taburan ikan teri yang gurih. Nasi sederhana ini terasa berkali-kali lipat lebih nikmat jika disantap bersama tempe kemul hangat yang baru diangkat dari wajan.
Berbeda dengan tempe mendoan, tempe kemul (yang berarti tempe selimut) digoreng dengan balutan adonan tepung gandum dan pati yang dicampur kucai serta kunyit, menghasilkan warna kuning cerah dan tekstur pinggiran yang sangat renyah (crispy). Kombinasi menu ini mudah ditemukan di warung-warung tenda pinggir jalan Dieng dengan harga berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsinya. Menyantapnya di tengah kabut pagi Dieng ditemani secangkir teh hangat benar-benar menjadi pengalaman kuliner yang berkesan.
Itulah 4 macam kuliner Wonosobo dan Dieng yang asyik untuk dicicipi. Unik, murah meriah dan enak… sambil menikmati pemandangan alam dari ketinggian sekitar 2000 m di atas permukaan laut.
Ada yang mau menambahkan? Tulis di kolom komentar yaa..
-SQ-
Dieng emang juara yaa udah pemandangannya bagus,,kulinernya juga enak-enak tenan. kalau saya ada lagi nih mbak yang saya suka dari Dieng adalah kopi dan teh nya. Teh khas Dieng itu enak dan kopinya juga,,,Keripik kentang juga enak. Dieng emang terkenal kentangnya.
Mie Ongklok aku belum coba, kalau Carica, Mie Kemul dan sego Megono udah. Kentang goreng juga belum coba, kok dulu aku nggak nemu ya, apa kurang cermat atau memang baru. Maklum terakhir ke Dieng udah lebih dari 10 tahun lalu 🙁
Nah, semur kentang tambah baru lagi ini, belum pernah denger sebelumnya. Bisa juga jadi kulineran ya ternyata….
Daku belum pernah ke Dieng nih tapi pernah dikasih oleholeh carica. Enakk, manis dan segar. Penasaran dengan mie ongklok dan tmepe kemul, sepertinya enak. Dan mama pasti hapy dioleh-olehi kentang Dieng.
Semua list makanan yang dibahas belum pernah saya coba, jadinya penasaran banget dengan rasanya, apalagi dengan manisan buah carica, mendengarnya pun baru pertama kalinya.
Mudah-mudahan suatu saat bisa jalan-jalan ke Wonosobo dan atau Dieng untuk menikmati hawa sejuk, pemandangan indah dan kuliner-kulinernya yang unik. Aamiin
Aku sudah mikirnya tempe kemul tuh tempe mendoan. Ternyata emang beda.
Aku lihat mie ongklok emang bukan mie yang menarik. Tapi ada sesuatu yang malah bikin aku pingin nyobainnya.
Kayak, rasanya pasti hangat gitu, makan mie ongklok di sana.
Dieng emang the best sih menurut ku. Selain destinasi wisata alam yang memukau. Mereka juara terkait kuliner.
Apalagi Mie Ongklok Pak Muhadi, meski sekilas penampilannya kurang menarik, faktanya rasa makanan yang satu ini juara banget. Beneran bikin ketagihan.
Pun dengan Carica dan aneka olahan kentang hingga kripik di Dieng dan Wonosobo. Bisa bikin ketagihan dan worth it untuk dijadikan oleh-oleh juga ya.
Khasnya kuliner nusantara ini adalah harganya yang murah tapi rasanya yang mewah.
Daku belum pernah mencicipi kuliner Wonosobo, dan membaca pilihan rekomendasi di sini bikin happy untuk dicoba
Baca carica aku langsung nyengir sendiri. Keingetan satu insiden beberapa waktu lalu.
Jadi temennya istriku ada yang bawain carica. Nah, tiba-tiba banget mertuaku ngide.. makan caricanya tanpa ngomong-ngomong. Alhasil, ni si Putri langsung histeris, nyariin wkwkwkw
Manalah beneran susah banget ini nyarinya. Cuma ada di Dieng doang ya. Sampe akhirnya nitip ke sodara yang ada di Dieng dulu, baru bisa dapet tu pengganti carica wkwkwkwk
Saya suka olahan kentang dan Carica nya itu. Apalagi kalo ke rumah warga, Carica nya yg belum dikemas ala pabrikan wah, seger banget
Tapi kalo mie ongklok saya agak kurang suka
Mending mie instan pakai rawit sih menurut selera saya mah. Hehehe….
Seumur-umur belum pernah makan buah carica aku mbakkk.. asli penasaran kayak apa rasanya. Apa bisa dimakan langsung ya buahnya??
Dieng ini salah satu tempat yang pengen banget tak datengi. Dulu waktu ke jogja tuh pengen mampir, tapi apalah daya waktunya yang terlalu singkat juga. Huhuhu…
Ealahhhh kak, akutu jadi langsung kangen hawa dingin Dieng… perpaduan Mie Ongklok dan Tempe Kemul hangat di tengah kabut itu juara sih, belum ada yang mengalahkan. Oh ya, kalau boleh menambahkan, minumnya purwaceng hangat biar badan makin segar setelah lelah berkeliling Candi Arjuna.
Duhhh siapa nih yang ada rencana berangkat bareng? yuklah kita gaskeuuun
Yakin seyakinnya suami saya pasti sangat mau diajak nyobain mie ongklok saat nanti mampir ke Dieng. Kebayang sih mie hangat lekoh ditambah satenya yang terlihat menggiurkan. Apa lagi dimakan saat udara dingin. Beuh
Cuman pernah merasakan tempe kemul dan sego megono meski tdk di Wonosobo lgsg. Emg sih ga tahu rasa otentiknya spt di Wonosobo. Tapi kuliner itu emg nikmat kalo udh biasa makan tempe, khususnya mendoan. Mirip tapi beda rasa hingga teksturnya.
Mie ongklok hanya pernah denger namanya tapi sekali lagi jg blm pernah mencoba. Apalagi Carica hingga olahan kentang. Duh baru tahu kalo di sana kentang diolah jadi beragam kudapan yak.
Smg bs dtg ke Wonosobo lgsg dan segera mencicipi kuliner khas Dieng ini.
Kirain mie ongklok itu kayak mie kuah pada umumnya eh ternyata beda banget ya dia pakai kuah kanji dan kacang gitu. Trus untuk kentang goreng dia digoreng bulat-bulat gitu kah mbak?
Pengen banget pergi ke negeri di atas awan, dieng Wonosobo
Udaranya dingin pemandangannya cantik
Meski belum pernah kesana, aku sudah pernah mencoba manisan carica dan nasi megono
Ya Allah baca tulisan ini dari awal sampai akhir beneran bikin makin mupeng pengen ke Dieng. Sebagai orang yang belum pernah menginjakkan kaki ke sana, aku langsung kebayang gimana syahdunya makan Sego Megono sama Tempe Kemul anget-anget di tengah kabut dingin yang menusuk tulang. Unik banget juga ya cerita tentang penjual kentang goreng yang sampai nawarin tester dulu demi mastiin kentangnya masih panas, berasa banget kehangatan warga lokalnya. Jadi tidak sabar ingin segera menikmati liburan di atas awan.
Dari semua makanan di atas yang pernah makan hanya Manisan Carica. Dibawakan mertua waktu pulang dari Dieng.
Nasi megono cuma pernah lihat di video tapi belum pernah makan. Kalau Mie Ongklok sama sekali belum pernah dengar. Unik ya tampilannya.
Kalau kentang Dieng jangan ditanya, dari dulu terkenal enak.
Aku belum pernah ke Dieng/ Wonosobo nih mbak. Ternyata ada makanan kentang gitu yaa, karena datarannya tinggi jadi cukup melimpah.
Kalau aku mungkin nyari kentang kukus gitu bukan yang digoreng kalau ke sana kyknya hehe.
Mie ongklok aku pernah dengar tapi belum pernah makan juga sih. Ternyata bener yaaa penampilannya gitu tapi rasanya enak. Harganya bisa dibilang gak murce juga mungkin karena pakai daging sapi buat satenya.
Kalau nasi megono aku pernah coba tapi belum pernah dari daerah asalnya langsung
Moga kapan2 bisa ke sana juga. Catet dulu rekomendasi kulinerannya