Hati-hati Bahaya Pengawet Makanan

Banyak masyarakat modern tidak bisa lepas dari keberadaan makanan berpengawet. Berbagai kuliner zaman now memang dikemas lebih unik demi menarik minat konsumen, namun sebagian besar dengan tambahan pengawet makanan.

Ilustrasi makanan kaleng yang umumnya ditambah pengawet

Nah Kuliks harus tahu bahwa pengawet buatan yang berlebihan memiliki dampak negatif bagi kesehatan tubuh. Karena itu, Pemerintah telah mengatur kadar pengawet atau zat preservatif diperbolehkan dalam berbagai produk makanan dalam Perka BPOM nomor 36 tahun 2013.

Mengenal Pengawet Makanan

Tidak semua zat preservatif membahayakan kesehatan, asal dikonsumsi sesuai dosis yang berlaku, atau menggunakan pengawet makanan alami seperti gula, garam dapur. Sedangkan pengawet sintetis legal telah diatur kadarnya oleh BPOM, contohnya antara lain asam sorbat, asam benzoat, sulfin, nisin, nitrit, dan sebagainya. Pengawet sintesis ini meskipun legal, namun tidak dianjurkan dikonsumsi dalam takaran berlebihan sebab bisa berdampak gangguan kesehatan.

Bubuk Borax

Ada lagi zat preservatif yang tidak dianjurkan karena tidak sesuai fungsinya antara lain Boraks, Formalin, Rhodamin-B dan Methanyl Yellow. Beberapa bahan tersebut seharusnya digunakan untuk mewarnai tekstil atau kain sehingga tidak wajar jika digunakan sebagai pengawet bahan kuliner.

Dampak Berbahaya Konsumsi Pengawet Makanan dalam Kurun Waktu Lama

Mengonsumsi pengawet terlalu berlebihan dan dalam kurun waktu lama bisa berdampak pada beberapa masalah kesehatan seperti gangguan pernapasan, gangguan jantung, gangguan pencernaan, masalah ginjal hingga menyebabkan peningkatan risiko terkena penyakit kanker.

Selain risiko kesehatan di atas, makanan berpengawet juga tidak boleh terlalu sering diberikan pada anak-anak sebab dapat menyebabkan perubahan perilaku. Hal ini sudah dibuktikan melalui berbagai penelitian peningkatan perilaku hiperaktif pada anak-anak yang rutin mengkonsumsi produk berpengawet. Jadi kita juga perlu selektif memilih makanan yang mengandung zat preservatif yang sering disalahgunakan pada produk camilan kesukaan anak-anak.

Baca juga tentang perlunya membaca Label Makanan Kemasan

Sebagai upaya pencegahan meminimalisir konsumsi pangan berpengawet, sebaiknya alihkan saja konsumsi pada makanan yang telah terbukti tidak mengandung zat preservatif. Misalnya makanan segar seperti buah dan sayuran lebih dianjurkan dibandingkan buah kaleng.

rak-makanan
Aneka makanan kemasan di supermarket

Atau saat hunting kuliner, Kuliks juga bisa mempertimbangkan kuliner yang menggunakan bahan pengawet alami saja.

*Sumber gambar: pixabay, alibaba, healthline

-Cemil-

10 thoughts on “Hati-hati Bahaya Pengawet Makanan

  • Agustus 21, 2020 pada 11:40 am
    Permalink

    Agak ngeri juga efeknya untuk jangka panjang, jadi pas udah tua baru kerasa sistem pencernaan rusak atau terkena kanker. Apalagi kalau makan hanya rutin mi instan dicampur kornet, sosis, dan nugget tanpa ada sayuran, lengkap sudah

    Balas
    • Agustus 22, 2020 pada 5:36 am
      Permalink

      Iya betul kak. Makanya lebih baik yg alami aja dan masak sendiri

      Balas
    • Agustus 22, 2020 pada 8:05 am
      Permalink

      Bener, suka takut kalo makanan ngandung pengewet2 gitu termasuk juga pewarna yang gonjreng2.
      Harus lebih selektif lagi kalo makan diluar.

      Balas
  • Agustus 21, 2020 pada 9:53 pm
    Permalink

    Tapi sekarang lagi trend nih menghindari dan menjauhi mknan berpengawet..pengaruh dari virus covid jg kali ya..jd semua orang lbh peduli ke sumber mknan sehat.

    Balas
  • Agustus 21, 2020 pada 10:32 pm
    Permalink

    Bahaya banget ya pengawet makanan dalam jangka panjang. Waduh harus benar2 memperhatikan asupan makanan dan minuman.

    Balas
    • Agustus 22, 2020 pada 5:39 am
      Permalink

      Yup. Yg enak dan lbh sehat mmg makanan alami

      Balas
  • Agustus 22, 2020 pada 5:54 am
    Permalink

    Wah iya mbak, terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet memang cukup berbahaya bagi kesehatan. Makanya untuk meminimalisir konsumsi makanan yang berpengawet biasanya saya lebih suka untuk memasak sendiri. Selain lebih sehat juga lebih hemat…

    Balas
  • Agustus 22, 2020 pada 12:07 pm
    Permalink

    wah sharingnya sangat bermanfaat mba, kebetulan aku juga pernah baca-baca soal artikel seperti ini, memang kita harus hati-hati dan jeli dalam melihat ingredient setiap produk yang kita makan

    Balas
  • Agustus 22, 2020 pada 2:03 pm
    Permalink

    Saudara sahabat saya meninggal dalam umur masih belasan 17 atau 18 tahun. Kanker usus yang sudah stadium 4. Penyebabnya karena sering konsumsi makanan berpengawet secara berlebihan nyaris setiap hari.

    Ini peringatan juga bagi saya agar keluarga jangan terlalu sering makan kemasan pabrik. Masih banyak makanan sehat yang ada di warung atau pasar, tinggal bijak memilih.
    Buah-buahan segar sebagai alternatif agar keluarga dicukupkan kebutuhan nutrisinya sekaligus membersihkan usus.
    .

    Balas
  • Agustus 22, 2020 pada 5:27 pm
    Permalink

    Lebih aman makan asinan, manisan, kerupuk, keripik dan benda benda fermentasi yang sudah jelas diawetkan secara alami ya..paling aman ya sayur dan buah, walaupun banayk kendalanya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *