Tumis Daun Ginseng, Pangan dari Hutan yang Kaya Manfaat

Makanan apa yang berkhasiat melancarkan ASI (Air Susu Ibu)? Jika ini pertanyaan di acara kuis televisi Family 100, jawaban teratas pasti daun katuk. Selanjutnya, survey membuktikan… Ada bayam, kacang-kacangan, pepaya, dll. Jarang yang tahu, bahwa ada satu pangan dari hutan yang bermanfaat termasuk untuk melancarkan produksi ASI ini, yaitu daun ginseng.

Sebagian besar orang mengenal ginseng hanya akarnya. Sejak berabad-abad lamanya, tanaman rempah yang tumbuh subur di Korea ini populer sebagai ramuan tradisional yang penuh manfaat. Khasiat ginseng diketahui secara ilmiah di antaranya dapat menambah stamina, meningkatkan kekebalan tubuh, anti kanker, hingga untuk obat awet muda.

Jika Korea punya ginseng bernama Latin Panax schinsen yang aslinya tumbuh liar di hutan-hutan di pegunungan Korea Selatan, Indonesia juga punya ginseng lho. Namanya Ginseng Jawa (Talium paniculatum). Penamaan “ginseng” dari dua tanaman yang berbeda ini adalah karena bentuk akarnya yang serupa, yang konon mirip dengan tubuh manusia. 

Akar Ginseng

Begitu pun khasiatnya, baik ginseng Korea maupun ginseng Jawa, punya manfaat yang hampir sama. Sangat banyak literatur dan referensi mengenai khasiat akar ginseng, yang dapat ditemukan dari berbagai sumber. Nah, kalau tulisan ini, lebih khusus mengulas mengenai daunnya ya.

Mengenal Ginseng Jawa dan Manfaat Daunnya

Tanaman Ginseng Jawa atau sering disebut Kolesom Jawa berasal dari Amerika Latin, Amerika Selatan, dan Kepulauan Karibia. Tanaman perdu ini punya bentuk daun melonjong berujung runcing dengan permukaan halus. Bunganya berwarna cerah keunguan.

daun-ginseng-jawa-vs-korea
Perbedaan Daun Ginseng Jawa dan Ginseng Korea

Ginseng Jawa tumbuh tegak 30-50 cm. Di pulau Jawa, tanaman ini tumbuh pada 5-1.250 meter di atas permukaan laut. Ia sering dijumpai di wilayah hutan lembab, maupun tumbuh liar di antara bebatuan atau runtuhan bangunan.

tanaman-ginseng-jawa
Segerombolan Ginseng Jawa
(Gambar: wikipedia.org)

Meski aslinya tumbuh liar, saat ini Ginseng Jawa banyak dibudidayakan di pekarangan sebagai tanaman hias karena bunganya yang cantik.

Daun ginseng jenis ini yang banyak dijual di supermarket untuk dikonsumsi. Daun Ginseng Jawa umumnya diolah untuk dijadikan campuran masakan seperti mie, sup, urap, atau dijadikan lalapan, atau bisa juga ditumis. Selain nikmat, daun ginseng juga punya banyak khasiat yang tak kalah dengan akarnya.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian, aneka manfaat daun ginseng diketahui sebagai berikut.

manfaat-daun-ginseng-pangan-dari-hutan

1. Anti bakteri

Penelitian menemukan bahwa tanaman ini berkhasiat sebagai tanaman obat, yang daunnya punya aktivitas biologi sebagai anti bakteri.

2. Memperlancar ASI

Kandungan saponin dalam Ginseng Jawa bermanfaat memperbaiki sirkulasi darah dan menstimulasi produksi ASI.

3. Anti inflamasi

Sejumlah senyawa pada daun ginseng punya sifat anti inflamasi yang baik untuk mengatasi peradangan.

4. Melancarkan pencernaan

Daun ginseng mengandung serat yang tinggi sehingga dapat mengatasi sejumlah keluhan, serta melancarkan proses pencernaan.

5. Menyehatkan kulit

Di dalam daun ginseng ditemukan kandungan vitamin C dan antioksidan yang tinggi, yang baik untuk proses regenerasi sel-sel kulit.

6. Anti diabetes

Kandungan siklofosfamid pada daun ini bekerja efektif meringankan beberapa keluhan pada penderita diabetes.

daun-ginseng-pangan-dari-hutan-1
Daun Ginseng Segar

Di atas, hanya beberapa manfaat dari sekian banyak khasiat dari daun Ginseng Jawa. Penelitian ilmiah tentang daun ini masih belum banyak, namun pemanfaatannya sebagai tanaman obat tradisional sudah banyak dikenal. Di masyarakat, bahkan ada yang menumbuk daun ini untuk dijadikan pengobatan luka.

Resep Asyik Tumis Daun Ginseng

Dengan khasiatnya yang kaya itu, rugi deh kalau belum pernah coba kuliner berbahan daun ginseng. Dan, kali ini saya akan bagikan resep tumis daun ginseng yang nikmat berkhasiat. Ingat ya, tuk ibu-ibu menyusui, selain daun katuk, daun ginseng pun bisa jadi alternatif makanan untuk menambah volume ASI.

Pangan dari hutan yang satu ini biasa saya buat tumisan, karena praktis, rasanya oriental dan yummy. Mari masak…

Bahan – bahan

  • 1 pak daun ginseng (sekitar 2 ikat)
  • 3 buah bakso sapi dipotong 4 (opsional)
  • 1/2 siung bawang bombay, iris tipis
  • 2 siung bawang merah, iris halus
  • 2 siung bawang putih, iris halus
  • 1 buah cabe merah, potong miring
  • 1 buah cabe hijau / paprika, potong miring
  • 1 batang daun bawang, iris kecil-kecil
  • 1 sendok makan saus tiram
  • Garam, gula, dan lada secukupnya
tumis-daun-ginseng-bahan
Bahan-bahan tumisan

Cara Memasak Tumis Daun Ginseng

  1. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum
  2. Masukkan bawang bombay
  3. Beri sedikit air, masukkan potongan bakso
  4. Masukkan saus tiram, masak hingga bakso matang
  5. Masukkan potongan cabe
  6. Tambah garam, gula dan lada sesuai selera
  7. Masukkan daun ginseng, aduk sebentar saja karena daun ini cepat layu
  8. Sajikan
tumis-daun-ginseng
Tumis Daun Ginseng. Hati-hati ketagihan ya 🙂
Pangan Dari Hutan, Jangan Diremehkan

Btw, Kuliks tau gak, ternyata pola makan masyarakat yang tinggal dekat hutan, atau di lingkungan berbasis pepohonan, lebih baik dari pada masyarakat lainnya, terlepas dari kondisi kemiskinan. Ini merupakan hasil penelitian CIFOR, Organisasi Pusat Penelitian Kehutanan Internasional. Jika pola makannya baik, sejatinya kondisi kesehatan tubuh juga cenderung lebih sehat.

Terbayang keragaman hayati yang ada di hutan? Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, sayuran, tanaman obat, madu hingga rempah-rempah, semua tersedia komplit di sana, alami tanpa pestisida. Termasuk si ginseng yang penuh manfaat itu, tentunya dapat ditemukan juga di hutan. So, pangan dari hutan terbukti tak bisa diremehkan, baik karena keragamannya, maupun fungsinya.

hutan-sumber-pangan
Hutan Sumber Pangan (Gambar : fao.org)

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, fungsi hutan sebagai penyedia pangan semakin mengerdil. Sebabnya adalah tanaman hutan saat ini cenderung dimanfaatkan untuk kepentingan komersial, sehingga disadari maupun tidak, masyarakat lokal kini lebih banyak membeli untuk kebutuhan pangannya. Meski masih ada masyarakat di pedalaman yang memanfaatkan hutan sebagai sumber pangan, tapi prosentasenya kian sedikit. Itu dari satu sisi.

Di sisi lain, makin hari makin banyak penebangan hutan untuk pembukaan lahan industri. Belum lagi adanya kasus pembakaran hutan ilegal yang banyak dilakukan oknum tak bertanggung jawab, yang membuat hutan tak lagi bisa berproduksi. Miris ya, saat alam begitu banyak memberi kemudahan dan keuntungan, ternyata masih ada banyak orang-orang yang tak peduli.

WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), merupakan organisasi nirlaba di bidang lingkungan hidup yang hadir sejak tahun 1980 untuk secara aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di Nusantara. Pemulihan kekayaan hutan sebagai sumber pangan termasuk salah satu kampanye organisasi ini.

Bagimana jika masyarakat umum ingin berpartisipasi? Nah, jika kita peduli hutan dan ingin turut andil dalam menjaga dan melestarikan pangan dari hutan, salah satu caranya bisa dengan menjadi bagian dari programnya WALHI. Organisasi ini membuka keran donasi buat siapa pun yang peduli. Aksi bersama-sama pastinya akan berarti, demi menyelamatkan hutan kita. Yuk!

-Cemil-