Pangan Organik, Benarkah Lebih Sehat?

Mungkin Kuliks sering menemukan makanan kemasan yang diberi label organik di supermarket atau dijual online, berupa beras, buah, sayuran, atau  makanan kemasan dari bahan alami. Masyarakat modern sekarang memang kerap mencari pangan organik yang diklaim lebih aman, sehat dan ramah lingkungan, karena bebas bahan kimia.

Sementara pangan non organik, sering disebut berbahaya bagi kesehatan, sebab menggunakan bahan kimia pestisida dalam proses penanaman atau bahan kimia lainnya saat pengolahan. Benarkah demikian?

Fakta Kadar Gizi Pangan Organik Dibandingkan Pangan Non Organik

Jika Kuliks sering ragu mengonsumsi kuliner non organik karena alasan kesehatan, ini fakta kadar gizi pangan organik. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh beberapa peneliti dari Stanford University, menyebutkan bahwa kadar gizi pada pangan berlabel organik hanya sedikit berbeda dengan makanan non organik. Perbedaan tersebut terletak pada tingkat fosfor dan Omega 3 yang lebih tinggi pada produk susu dan telur ayam.

Selain itu, pangan jenis organik memang memiliki tingkat residu bahan kimia pestisida lebih sedikit dibandingkan dengan pangan non organik. Namun, sebenarnya kita tidak perlu khawatir kalau efek pestisida ini bakal berlebihan pada tubuh lho! Selama pemberian pestisida sesuai aturan yang ditetapkan Dinas Kesehatan pemerintah, risiko gangguan kesehatan bisa dibilang seminimal mungkin alias jarang terjadi. Penelitian ilmiah lebih detail mengenai dampak buruk pestisida pada makanan yang dikonsumsi pun belum ada yang dipublikasi.

Jadi Haruskah Kita Membeli Pangan Organik?

Sebenarnya pilihan untuk membeli pangan organik tergantung pada masing-masing individu. Mengingat bandrol harga yang diberikan pada jenis makanan ini lebih mahal dibandingkan makanan biasa yang bisa mencapai dua kali lipatnya.

Anggapan makanan non organik tidak menyehatkan, jelas hal yang salah. Sebaliknya, bahwa makanan organik lebih sehat dibandingkan makanan non organik, juga tidak dapat dibenarkan sepenuhnya. Selama kita mengonsumsi makanan yang sehat dengan kadar residu pestisida wajar saja, maka tidak ada yang salah dengan makanan non organik.

Tipsnya, selalu cuci buah dan sayuran pada air yang mengalir sebelum mengonsumsinya, untuk menghindari efek residu pestisida berlebihan. Dan jangan lupa, pilihlah bahan pangan yang masih segar, bersih serta menyehatkan. Tapi, jika budget Kuliks memang ada, memilih konsumsi pangan organik juga sah-sah saja ☺.

-Cemil-
Sumber foto : pixabay.com

Baca juga: pewarna makanan alami yang bisa dipertimbangkan untuk menggantikan pewarna makanan sintetis.

9 komentar pada “Pangan Organik, Benarkah Lebih Sehat?

  • Oktober 20, 2021 pada 9:59 pm
    Permalink

    Apapun itu bahan pangannya harus dipastikan sehat dan memenuhi kebutuhan tubuh ya kak. Semua harus dalam keadan bersih, diolah dengan baik baru siap makan

    Balas
  • Oktober 21, 2021 pada 2:22 pm
    Permalink

    Pangan organik dan non-organik tidak begitu berbeda dari kandungan gizi. Namun yang dikuatirkan orang oleh pangan ono-organik adalah pestisida dan pupuk yang digunakan secara berlebihan, karena itu sangat berbahaya bagi kesehatan kita ya Mbak.

    Namun pada akhirnya tergantung pada pilihan konsumen. Karena produk organik memang relatif lebih mahal. Karena treatmen produk organik memang berbeda dengan non-organik, butuh tenaga, waktu dan usaha lebih soalnya

    Balas
    • Oktober 22, 2021 pada 11:01 am
      Permalink

      Kalau mau menikmati pangam organik, lebih baik lagi menanamnya sendiri, akan terasa saat dari penanaman sampai panen terus dimakam sendiri. Beuhh, jadi akan tahu konsep mahal dr menikmati pangan organik

      Tp klo mau instan yaa beli sendiri, asalkam sesuai dengan budget, hehe

      Balas
  • Oktober 21, 2021 pada 5:05 pm
    Permalink

    Untuk pangan yg non-organik, apa dibersihkannya cukup dicuci dengan air mengalir saja? Karena katanya mesti dicuci dengan cuka apel untuk menghilangkan pestisidanya. Ku masih awam dengan hal ini 😀

    Balas
  • Oktober 21, 2021 pada 7:30 pm
    Permalink

    Jujur aku selaku beli sayuran dan buah yg non organik dari dulu :D. Toh aku makan itu udah sejak kecil, di mana organik belum terlalu hits. Dan sampe skr baik2 aja. Jadi buatku sama aja organik dan non organik. Aku lebih setuju dengan yg mba bilang, selama mencucinya bersih, di air yg mengalir, malah skr ada pembersih buah dan sayur juga toh, aku yakin bakal bersih kok.

    Balas
  • Oktober 22, 2021 pada 8:58 am
    Permalink

    Akupun selalu gitu kak cuci buah sayur pada air yang memngalir sebelum dikupas tp ga semua organik sii apalagi di kangs sayur bukan dari petaninya langsung

    Balas
  • Oktober 22, 2021 pada 9:59 am
    Permalink

    Sumber pangan organik ini memang segar, tapi seringkali kesegarannya tidak tahan lama karena tanpa ada pengaruh apa-apa dari zat kimia.
    Sangat bagus kalau dikonsumsi rutin untuk kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

    Balas
  • Oktober 22, 2021 pada 11:38 am
    Permalink

    Mau milih yang organic or non-organic itu sesuai pilihan masing masing ya, kadang ada yang non organic tapi bahannya sama kayak yang organic
    kalau kita bisa bikin yang non-organic menjadi makanan yang layak ya gpp gak masalah juga, makanan enak engga semua dari bahan organic

    Balas
  • Oktober 26, 2021 pada 10:03 pm
    Permalink

    Sejak dulu saya konsumsi bahan non organik, soalnya sulit menemukan bahan organik ditambah harganya yang lumayan mahal.
    Syukurlah kalau bahan non organik juga menyehatkan dan bagus juga dikonsumsi. Soalnya sering parno baca-baca artikel yang membahas bahan organik dan non organik. Kirain, selama ini saya makannya yang kurang sehat, pantas saja gendut. Eh, apa hubungannya ya? wkwkwk.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *